Kerap kali kita mendengar istilah Revolusi Industri 4.0, era yang dikenal dengan nama disruptive technology. Di zaman ini, siapapun yang tidak cepat tanggap mengadopsi teknologi perlahan akan tertinggal dengan teknologi yang lebih baru dan maju. Secara masif, hal ini tentu saja berpengaruh pada perilaku berbisnis dan kondisi ekonomi global, sehingga lahirlah ekonomi digital. Ekonomi digital adalah aspek ekonomi yang berbasiskan pada pemanfaatan dan pemberdayaan teknologi informasi dan komunikasi digital.
Berada di Asia Tenggara, Indonesia sendiri merupakan pasar yang potensial bagi ekonomi digital. Besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia dibuktikan melalui nilai USD 27 miliar pada tahun 2018. Angka ini membuat Google optimistis bahwa 10 tahun lagi ekonomi digital Indonesia akan mencapai nilai USD 100 miliar. Tak ayal, faktor yang dapat mendukung perkembangan tersebut adalah pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia. Bahkan menurut data salah satu konsultan audit terbesar di dunia PricewaterhouseCoopers (PwC) pada Februari 2017, Indonesia diprediksi akan menduduki peringkat 5 dalam ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.
Menghadapi era seperti saat ini, perlu adanya pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas buruh. Pada dasarnya, buruh, pekerja, tenaga kerja maupun karyawan adalah sama. namun dalam kultur Indonesia, "Buruh" berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, tenaga kerja dan karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tetapi otak dalam melakukan kerja. Akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu Pekerja. Hal ini terutama merujuk pada Undang-undang Ketenagakerjaan, yang berlaku umum untuk seluruh pekerja maupun pengusaha di Indonesia.
Pemerintah telah menetapkan kebijakan dan menyusun perencanaan tenaga kerja secara berkesinambungan meliputi perencanaan makro dan mikro. Pelatihan kerja diarahkan untuk membekali para calon tenaga kerja agar memiliki skill dan kemampuan sesuai kebutuhan, pelatihan ini dilakukan oleh BLK (Balai Latihan Kerja) di sejumlah daerah. Pembekalan dan pelatihan yang dilakukan oleh BLK pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kemampuan calon pekerja dan para pekerja agar proses produksi dapat ditingkatkan.
Di era teknologi dan digitalisasi yang semakin canggih, berdampak pada banyaknya aktivitas bisnis yang akan diambil alih oleh mesin. Oleh sebab itu dibutuhkan SDM tenaga kerja yang memiliki keterampilan untuk bisa mengimbanginya.
Ekonom UOB (United Overseas Bank) Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, memperkirakan ekonomi digital akan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tumbuhnya ekonomi digital, ditambah dengan pertumbuhan kelas menengah, akan memberikan dorongan yang lebih kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Ekonomi digital diperkirakan terus menjadi salah satu fokus pemerintah Indonesia ke depan," ujar Enrico di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa, 14 November 2017.
Buruh mempunyai peranan yang penting dalam segi pembangunan ekonomi sehingga para pekerja atau buruh harus memiliki komitmen dan kesadaran yang tinggi untuk meningkatkan produktivitas, kapasitas, dan skill (keahlian) agar para pekerja ini siap menghadapi era digitalisasi, dan transaksi nontunai. Perkembangan teknologi sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh para buruh. Sebab jika tidak, perkembangan teknologi akan menghilangkan kesempatan kerja bagi para buruh tersebut. Menghadapi ini tidak bisa lengah karena ketidaksiapan menghadapi era digital berpotensi kehilangan pekerjaan dan menambah pengangguran.
Peran Buruh dalam Menghadapi Ekonomi Digital yang Semakin Melesat
1. Menjaga stabilitas pekerjaan
Menjaga stabilitas pekerjaan adalah tantangan. Pekerjaan yang terus bertambah dan waktu istirahat yang tidak digunakan dengan bijak adalah salah duanya. Jadi sekeras bagaimana usaha seorang pekerja dalam melewati tantangan-tantangan yang ada, peran menjaga stabilitas pekerjaan inilah yang perlu dipahami demi keberlangsungan bisnis perusahaan.
2. Meningkatkan kualitas kerja lewat potensi masing-masing pekerja.
Setiap pekerja mempunyai potensi yang berbeda. Namun, hal ini ternyata bisa meningkatkan kualitas kerja, apalagi bila perbedaan potensi di masing-masing pekerja ini sanggup dioptimalkan. Bukan hanya dapat meningkatkan kualitas kerja, meningkatkan daya saing perusahaan pun secara otomatis terbantu oleh salah satu peran pekerja ini.
3. Inovatif dan mempunyai kreativitas yang tinggi
Gagasan-gagasan untuk melebarkan sayap perusahaan kadang menemukan jalan buntu. Dibutuhkan inovasi dan kreativitas yang tinggi dari seluruh pekerja, terutama pimpinan yang mempunyai kendali atas otoritas perusahaan, untuk keluar dari jalan buntu dan mempertahankan keberlangsungan organisasi.
Bila pekerja tidak inovatif dan tidak mempunyai kreativitas yang tinggi, tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan pasti lebih memilih mempekerjakan pekerja yang inovatif dan kreatif serta mau bekerja keras, daripada karyawan dengan gelar tinggi tapi hanya ingin bekerja yang ‘enak-enak’ saja.
4. Menjalin komunikasi yang baik dengan pihak intern maupun ekstern
Komunikasi dengan pihak intern maupun ekstern juga penting dilakukan pekerja. Selain demi keberlangsungan perusahaan, hal ini juga memudahkan dalam memperluas relasi pekerja itu sendiri. Meskipun tidak bisa dilalukan secara intens, komunikasi itu cukup dilakukan dengan baik tanpa melibatkan kepentingan tertentu. Sebab peran karyawan dalam menjalin komunikasi yang baik dengan pihak intern maupun ekstern akan berpengaruh terhadap nama baik perusahaan.
Para pekerja secara tidak langsung dituntut untuk bisa menghadapi perubahan, terutama karena adanya Industri 4.0. Dengan tenaga kerja yang mumpuni di masing-masing bidangnya, tidak sulit untuk menghadapi perkembangan ekonomi digital yang kian melesat di Indonesia. Justru dengan teknologi yang semakin berkembang akan memudahkan manusia dalam melakukan kegiatan ekonomi.

