Minggu, 15 Mei 2022

KEARIFAN DI BALIK KEUNIKAN SUKU BADUY

 


Gajebong, Desa Kanekes, Banten merupakan tempat orang Baduy tinggal. Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang dikenal dengan Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Perbedaan yang paling mencolok dalam kedua Suku Baduy ini adalah dalam menjalankan pikukuh (aturan adat) dalam kehidupan mereka sehari-hari. Suku Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan tradisi warisan para leluhurnya dengan baik. Leluhur Suku Baduy adalah orang yang sangat patuh pada adat, mereka pantang menerima budaya modern. Hal itu disebabkan karena leluhur Baduy menganggap bahwa “orang modern itu pinter-pinter tapi saking pinternya banyak yang minterin orang” (orang modern itu pintar-pintar namun karena kepintarannya banyak yang membodohi orang lain), ini salah satu penyebab Suku Baduy menutup diri dari dunia luar. Ciri pakaian kaum pria Baduy Dalam memiliki tiga bagian yaitu telekung (ikat kepala) yang berwarna putih kecoklatan, jamang sangsang (baju atasan yang berwarna hitam atau putih), dan bawahan berupa sarung. Tempat tinggal orang Baduy Dalam mendiami tiga kampung yakni Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo yang dipimpin oleh Pu’un (Ketua Adat). Orang luar boleh datang tapi tidak diperkenankan untuk memotret atau memvideo apa yang ada di Suku Baduy Dalam karena merupakan hal yang pantang untuk dilakukan. Kini aturan itu hanya berlaku untuk orang Baduy Dalam.

Sebaliknya, terdapat pula Suku Baduy Luar yang telah mengalami modernisasi baik dari segi pakaian hingga kebiasaan. Tetapi Suku Baduy Luar masih mematuhi aturan adat seperti tidak mandi di beberapa bagian aliran sungai Ciujung, hal ini dilakukan bukan tanpa alasan melainkan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian hulu sungai. Terdapat satu lagi aturan adat yang masih dipegang oleh Suku Baduy Luar hingga saat ini, yaitu mengenai bangunan rumah yang terbuat dari bambu, inilah yang membuat suhu terasa lebih hangat mengingat lokasi perkampungan Suku Baduy berada di tengah hutan, kemudian yang terpenting adalah rumah suku Baduy harus menghadap ke arah selatan bagi penganut Sunda Wiridan.

Adapun beberapa ketentuan adat sebagai bentuk kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat Suku Baduy di antaranya adalah dilarang mengubah jalan air, misalnya untuk membuat kolam ikan, mengatur drainase, dan membuat irigasi. Dilarang mengubah bentuk tanah, misalnya menggali tanah untuk membuat sumur, meratakan tanah untuk pemukiman, dan mencangkul tanah untuk pertanian. Dilarang masuk Leuweung Titipan (Hutan Titipan)


untuk menebang pohon, membuka ladang, atau mengambil hasil hutan. Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, obat pemberantas hama, mandi menggunakan sabun, pasta gigi, mencuci menggunakan detergen, atau menangkap dengan dengan cara memberi racun. Dilarang menanam tanaman budidaya perkebunan, seperti kopi, kakao, cengkeh, dan kelapa sawit. Dilarang memelihara binatang ternak berkaki empat, seperti sapi, kambing, dan kerbau. Dilarang berladang sembarangan, harus sesuai dengan ketentuan adat. Dilarang menggunakan sembarang pakaian, terdapat ketentuan seperti Baduy Dalam berpakaian putih-putih dengan ikat kepala putih, sedangkan Baduy Luar berpakaian hitam dengan ikat kepala hitam.

Salah satu mata pencaharian mereka adalah membuat gula kawung merupakan gula yang terbuat dari pohon aren. Untuk membuat gula yang dibutuhkan dari pohon aren adalah air nira-nya, biasanya air nira disadap sebanyak dua kali dalam satu hari (esuk-esuk den sore bae/pagi dan sore). Hasil sadapan ditampung dalam bambu yang disebut lodong. Gula kawung tidak dibuat di rumah melainkan dibuat di saung karena api yang digunakan untuk membuat gula kawung cukup besar dan menimbulkan asap yang dapat mengganggu tetangga jika dibuat di rumah. Air nira yang sudah disadap lalu digodog (direbus) sembari diaduk hingga mengental kemudian dicetak dalam wadah berbentuk persegi panjang dengan lubang berbentuk lingkaran disepanjang sisi permukaannya. Gula kawung dari Baduy banyak dicari orang karena rasa manisnya yang pas.

Orang Baduy percaya bahwasanya ada penyakit yang datang dari roh jahat, mereka menangkalnya dengan Kapuru (semacam gelang sebagai jimat). Meskipun masih percaya pada jimat, Suku Baduy Luar juga melek teknologi seperti mampu menggunakan Handphone. Hal ini dikarenakan adanya orang kota yang kerap mampir di kampung. Karena memiliki Handphone, orang Suku Baduy Luar dapat membaca. Aturan adat Baduy memang melarang untuk mengenyam pendidikan dengan bersekolah, sehingga suku Baduy Luar belajar melalui Smartphone tersebut meskipun tidak pandai menulis namun mereka mahir mengetik melalui Handphone tersebut.

Saat siang hari, masyarakat Baduy pergi ke ladang sehingga perkampungan menjadi cukup sunyi, namun saat malam hari mereka semua berada di rumah sehingga menimbulkan suasana hangat meskipun tidak ada listrik maupun lampu sebagai penerangan di sana. Warga kampung sering berkumpul dan bersenda gurau dengan tetangga maaupun keluarga yang disebut Ngawangkong (berdialog). Adat istiadat di sana, para wanita harus menyediakan


makanan untuk para pria. Para wanita Suku Baduy memasak menggunakan tungku yang di atasnya terbuat dari tanah liat. Terdapat kepercayaan orangtua bahwa jika api tidak boleh terkena tanah secara langsung “bisi karogo murka karna alamna tersakiti”. Ikan asin merupakan makanan favorit suku Baduy karena masa simpan yang awet hal ini disebabkan karena kampung mereka yang jauh dari akses dunia luar. Prinsip hidup sederhana teguh dipegang oleh masyarakat Suku Baduy, misalnya dalam penggunaan hasil panen padi banyak disimpan di dalam leuit (tempat penyimpanan padi). Rata-rata leuit menyimpan padi yang sudah berumur puluhan tahun yang dihasilkan dari beberapa panen. Padi dari leuit tidak boleh dipakai sembarangan dan hanya dapat dipakai pada acara khusus saja seperti acara adat kawinan dan tradisi Seba Baduy (persembahan hasil panen Suku Baduy).

Cara hidup tradisional masyarakat Baduy yang sederhana dan penuh toleransi lebih melihat kehidupan jauh ke depan, sehingga mereka senantiasa menjaga keberlanjutan hidupnya. Proteksi terhadap lingkungan ditujukan untuk mempertahankan alam sebagai tombak kehidupan mereka agar tetap utuh dan dinamis. Pandangan mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan sama dengan pemikiran dalam pembangunan berkelanjutan di mana mereka beranggapan bahwa adanya kerusakan lingkungan atau perubahan terhadap bentuk lingkungan akan dapat mengancam sumber kehidupan mereka yang berakibat dengan timbulnya permasalahan misalnya kelaparan. Kehancuran akibat kerusakan lingkungan akan memicu kepunahan Suku Baduy. Oleh sebab itu, masyarakat Suku Baduy juga melarang bahkan melawan pihak luar yang berusaha merusak lingkungan mereka.

Bentuk perilaku pelestarian lingkungan dan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Baduy tercermin dalam keseharian kehidupan mereka. Praktik konservasi mereka wujudkan dalam beberapa hal di antaranya, hutan yang dianggap sakral sehingga masyarakat menghormati dan menjaga kawasan hutan mereka, serta adanya konsep pengelolaan lingkungan dengan sistem zonasi yang telah dikenal dan dipraktikkan masyarakat Suku Baduy secara turun temurun, sistem zonasi tersebut adalah Daerah Baduy Dalam analog dengan zona inti, Daerah Baduy Luar analog dengan zona pemanfaatan intensif, dan Daerah Dangka analog dengan zona penyangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendekonstruksi Pajak: Membangun Model Baru untuk Stabilitas Ekonomi yang Adil dan Berkelanjutan

Penulis: Eva Nur Diana   Pajak merupakan salah satu instrumen kebijakan ekonomi yang sangat penting dalam menjaga stabilitas keuangan ...