Penduduk suatu kota memegang peranan yang sangat penting dalam setiap kajian studi perkotaan. Hal ini disebabkan karena perkembangan penduduk kota baik yang menyangkut kuantitas maupun kualitas merupakan faktor utama dari eksistensi kota itu sendiri (Ria Rahayu Lestari, 2007). Seiring berkembangnya beragam aktivitas perkotaan, memicu pertumbuhan penduduk sebagai sarana pelaksananya. Pertumbuhan penduduk dalam suatu wilayah perkotaan selalu diikuti oleh peningkatan kebutuhan ruang. Semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin tinggi pula kebutuhan akan ruang kota, oleh karena itu faktor penduduk menjadi salah satu kontribusi terbesar bagi terbentuknya aktivitas perkotaan (Qoriatul Husna, 2009). Terdapat berbagai macam aktivitas yang menjadi ciri perkotaan, antara lain permukiman, industri, komersial, dan lain-lain.
Perkembangan kota selain dipengaruhi oleh faktor penduduk, dipengaruhi pula oleh faktor sosial budaya dan faktor sosial ekonomi. Faktor sosial budaya yang dimaksud adalah mencakup perubahan pola atau tata cara kehidupan masyarakat (Mulyo Hendarto, 2005). Sedangkan faktor sosial ekonomi dalam hal ini berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi kota tersebut yang berpengaruh terhadap ragam kegiatan usaha masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi suatu kota dapat dilihat dari tingginya aktivitas perekonomian. Kondisi ini berpengaruh terhadap pertumbuhan maupun perkembangan aktivitas lain di kawasan-kawasan perkotaan seperti munculnya kawasan permukiman baru, kawasan industri, serta kawasan perdagangan dan jasa (komersial). Aktivitas-aktivitas perkotaan tersebut perlu didukung dengan adanya transportasi. Dalam kaitannya dengan bidang ekonomi, kebutuhan akan transportasi merupakan kebutuhan turunan (derived demand) akibat dari adanya aktivitas ekonomi, sosial dan sebagainya. Hal ini didukung dengan konsep transportasi yang dikemukakan oleh Haryono Sukarto (2006) yaitu adanya pergerakan berupa perjalanan (trip) dari asal (origin) sampai ke tujuan (destination). Asal (origin) dapat berupa rumah, sehingga perjalanan yang dilakukan disebut home based trip.
Keberadaan transportasi sebagai pendukung pergerakan masyarakat akan memberikan implikasi positif terhadap semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan suatu kota. Namun, perkembangan transportasi sampai saat ini tidak hanya memberikan implikasi positif tetapi juga implikasi negatif, seperti kemacetan, kesemrawutan, dan kecelakaan lalulintas (Masterplan Transportasi Kota Semarang 2009-2029:1-2). Menurut Bayu A. Wibawa (1996), terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. Implikasi negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan transportasi salah satunya disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan penduduk yang memberikan pengaruh pada meningkatnya demand terhadap sarana maupun prasarana transportasi (Masterplan Transportasi Kota Semarang 2009-2029:1-2).
Di sisi lain, masalah transportasi juga sangat berkaitan erat dengan kebijakan tata ruang. Pakar ilmu transportasi Warpani (1987) berpendapat bahwa ruang merupakan kegiatan yang ditempatkan di atas lahan kota, sedangkan transportasi merupakan sistem jaringan yang secara fisik menghubungkan satu ruang kegiatan dan ruang kegiatan lainnya. Perencanaan kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola transportasi akibat dari perencanaan itu sendiri akan menimbulkan keruwetan lalulintas di kemudian hari yang berakibat dengan meningkatnya kemacetan lalulintas dan akhirnya meningkatkan pencemaran udara (Haryono Sukarto, 2006).
Momen Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) kali ini terasa lebih longgar dibanding tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan batalnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level III serentak pada momen tersebut. Keputusan ini sempat menuai perdebatan di tengah masyarakat. Pasalnya, ketika masa libur Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha 1443 Hijriah, seluruh kegiatan masyarakat diterapkan pembatasan-pembatasan yang sangat ketat.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan, pelonggaran di masa libur nataru ini dikarenakan kondisi Covid-19 di Indonesia yang sudah semakin membaik. Dia menjelaskan, data kasus konfirmasi harian nasional dalam dua minggu terakhir semakin menurun dengan rata-rata berkisar 100-300 kasus per hari. Selain itu, tren positivity rate juga semakin rendah, yaitu di bawah satu, 0,1-0,2%. Hal ini sangat berbeda dengan situasi di tahun lalu, pada periode yang sama positivity rate kita setahun yang lalu mencapai 13,6%.
Positivity rate adalah perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan. WHO menetapkan ambang batas minimum angka positivity rate kurang dari 5 persen. Semakin rendah positivity rate suatu daerah semakin membaik kondisi pandemi. Selain itu, capaian vaksinasi dosis pertama yang sudah mencapai 159.803.372 orang atau 76,73% dari target, dan 111.177.232 orang telah mendapatkan vaksinasi dosis kedua atau 53.38% dari target, dan untuk dosis ketiga sudah mencapai 1.303.225 atau 0.63%, dari total sasaran 208.266.720 penduduk Indonesia (Data Kemenkes, 27 Desember 2021).
"Ini yang menyebabkan kenapa kita confidence (percaya diri) untuk membuka gerakan orang secara lebih leluasa pada menjelang Natal dan Tahun Baru kali ini," ujar Menko PMK saat menyampaikan arahan dalam kegiatan Refleksi 2 Tahun Peran Muhammadiyah dalam Penanganan Pandemi, secara daring, pada Selasa (28/12).
Menko PMK berharap, pasca libur nataru kondisi Covid-19 yang melandai saat ini tetap terjaga dengan baik. Dia meminta masyarakat agar tidak lengah dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, pemerintah juga terus dikebut hingga mencapai target nasional.
"Harapan kita, kalau kondisi ini bisa kita maintance dengan baik. Maka tahun depan Insya Allah lebarannya bisa berjalan normal. Paling tidak bisa kita selenggarakan seperti Natal saat ini," ujarnya. Peran Penting Ormas dalam Pandemi dan Pembangunan Manusia. Munculnya varian Omicron di Indonesia ditengarai akan kembali berpengaruh pada kondisi kasus Covid-19. Karena itu, Menko PMK mewanti-wanti seluruh pihak agar tidak mengabaikan sektor pembangunan manusia lainnya. Misalnya di sektor perekonomian agar tetap berjalan, serta penanganan di sektor kesehatan lainnya seperti penanganan kasus Tuberkolosis (TB), penanganan gizi ibu dan anak, penanganan stunting, dan penanganan HIV. Dia berharap, kolaborasi pentahelix yang terdiri dari pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan media massa, dapat berkontribusi penuh dalam mengendalikan Covid-19 serta dalam pembangunan manusia Indonesia.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat, jumlah penumpang angkutan umum di masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) atau periode 24 Desember 2021-2 Januari 2022 sebanyak 3.126.519 orang. Jumlah penumpang tersebut meningkat 13,91 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang sebanyak 2.744.781 orang. Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan, berdasarkan pemantauan, puncak pergerakan penumpang angkutan umum di semua moda terjadi pada 19 Desember 2021 atau H-6 sebelum diberlakukannya kebijakan pengetatan prokes, yaitu sebesar 441.950 orang.
“Sementara, setelah diterapkan kebijakan pengetatan prokes yaitu mulai 24 Desember 2021-2 Januari 2022, jumlahnya menurun dikisaran 200.000-350.000 orang per harinya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (4/1/2022). Sementara itu, jumlah pergerakan kendaraan pribadi atau golongan 1 melalui jalan tol mulai 17 Desember 2021-2 Januari 2022, yang dipantau di 4 Gerbang Tol Utama yakni Cikampek Utama, Kalihurip Utama, Cikupa, dan Ciawi, meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Tercatat, jumlah kendaraan yang keluar Jabodetabek di jalan tol sebanyak 2.081.696 kendaraan, atau meningkat 14,9 persen jika dibandingkan periode yang sama din2020 yang sebanyak 1.810.985 kendaraan.
Adapun kebijakan yang dapat diambil dalam upaya penurunan resiko kemacetan saat terjadinya nataru adalah penerapan kebijakan batasan okupansi transportasi publik yang tidak melebihi 50% dari kapasitas maksimum untuk menjamin physical distancing, demand management dengan melakukan staging bertahap berdasarkan sektor prioritas, penerapan protokol kesehatan transportasi penumpang dan barang (termasuk operasi pergudangan): Thermal scanning, daily health report secara mandiri menggunakan aplikasi, pengembangan dan penggunaan aplikasi untuk i) mengetahui jumlah penumpang yang ada di dalam bis/kereta, ii) mengecek kelayakan penumpang untuk menaiki transportasi public, pembayaran menggunakan e-money, pembersihan armada dan fasilitas lain secara berkala, dan manajemen sirkulasi udara di dalam armada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar